DIPANGGIL UNTUK MENJADI HAMBA ALLAH
RENUNGAN HARIAN
SELASA 11 NOVEMBER 2025
KEB 2:23-3:9; Luk 17:7-10
Renungan Singkat
Hari
ini kita diingatkan melalui dua bacaan tentang ”siapakah aku?” Kita adalah umat Allah, hamba Allah yang siap
untuk melayani Tuhan. Melalui Sakramen Baptis yang kita terima, kita diangkat
menjadi anak-anak Allah. Pertanyaannya, apakah ada perubahan dalam hidup kita? Apakah
sebagai anak-anak Tuhan, kita merasa lebih hebat dari orang lain, apakah kita
merasa mempunyai hak istimewa untuk dilayani? Semoga tidak.
Bacaan
pertama berbicara tentang perbedaan antara parangan orang duniawi dan iman
terhadap kematian dan penderitaan. Bagi orang benar, manusia diciptakan untuk
kebakaan, dan dijadikan-Nya gambar hakikat-Nya sendiri. Orang benar ada di
tangan Allah dan mereka akan dibebaskan dari siksaan. Meski menurut orang lain
mereka hidup dalam penderitaan, disiksa, namun mereka penuh harapan hidup dalam
kedamaian. Mereka menerima anugerah yang besar, sebab Allah hanya menguji
mereka agar mereka layak bagi-Nya. Penderitaan adalah ujian dari Allah yang
bertujuan untuk pemurnian dan persiapan menyambut anugerah abadi di
hadirat-Nya. Jiwa mereka ada ditangan Allah dan mereka tidak akan ditimpa
siksaan permanen, serta kelak akan menerima upah yang besar dan berkuasa
bersama Allah. kasih setia dan belas kasihan menjadi bagian orang-orang pilihan
Allah.
Injil menyentuh lebih dalam. “Apabila
kalian telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah
kalian berkata: kami ini hamba-hamba tak berguna; kami hanya melakukan apa yang
harus kami lakukan.” Kita diingatkan pada kata-kata Maria saat menerima kabar gembira dari malaikat
Gabriel. ”Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanmu.”
Maria menyadari dirinya dipilih demi sebuah misi yang sangat menentukan dan
kesiapsediaannya untuk menerima sebagai pelayanan sebagai Bunda Putera untuk
melaksanakan kehendak Allah yakni menyelamatkan umat manusia. Jawaban Maria mau
mengungkapkan ketidakberdayaannya di hadapan Allah dan keyakinan bahwa tidak
ada yang tidak mungkin bagi Allah.
Pernyataan pada
akhir bacaan Injil hari ini rasanya sangat keras bagi telinga manusia modern. Bagaimana
tidak. Kita hidup di zaman di mana hampir setiap orang ingin diakui, ingin
dihargai, ingin dipuji. Hampir semua orang ingin dilihat dan diakuai hasil
kerja kerasnya. Tapi Yesus justru
mengajak kita masuk ke dalam cara berpikir yang berbeda: menjadi hamba yang
melayani bukan karena pujian, melainkan karena cinta. ”hendaklah kamu
berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa
yang kami harus lakukan." Hamba tidak memikirkan dirinya sendiri,
tetapi menempatkan tuannya di atas segala-galanya.
Santo Martinus dari
Tours, yang kita peringati hari ini, adalah teladan indah dari sabda ini. Ia
adalah seorang prajurit Romawi yang kemudian menjadi biarawan dan uskup. Kisah
paling terkenal darinya adalah ketika ia membelah jubahnya untuk menutupi seorang
pengemis yang kedinginan. Malam itu, Yesus menampakkan diri kepadanya
mengenakan potongan jubah itu, berkata: “Martinus, orang yang belum dibaptis
itu, telah menyelubungi Aku.” Martinus tidak melakukan perbuatan itu untuk
dikenal atau dipuji, tapi karena hatinya dikuasai kasih Kristus. Ia hanya
melakukan apa yang memang seharusnya dilakukan oleh seorang yang mencintai
Tuhan.
Marilah berdoa.
Ya Allah Bapa yang Mahakasih. Engkau telah memberi kesempatan kepada kami untuk melayani dan bekerja dalam ladang-Mu. Semoga melalui Sabda-Mu kami dimampukan untuk hidup sebagai hamba yang taat, setia, dan penuh kasih, yang melayani bukan demi pujian, tetapi demi kemulaan-Mu. Semoga kami selalu mampu untuk hidup dalam kesederhanaan, agar kami dapat menemukan sukacita dalam pengabdian, tanpa menuntut balasan, karena kami percaya bahwa kasih-Mu cukup menjadi upah bagi kami. Semoga kami mampu seperti Bunda Maria, menerima tugas panggilan kami untuk melaksanakan kehendak-Mu, tidak untuk diri kami sendiri, melainkan demi keselamatan dan kesejahteraan banyak orang. Semoga hidup dan karya kami sepanjang hari ini menjadi persembahan terindah kami yang berekenan kepada-Mu. Dan semoga hidup kami menjadi cermin kasih dan kebaikan-Mu, sehingga melalui kehadiran kami, nama-Mu semakin dimuliakan dan damai-Mu semakin nyata di tengah masyarakat kami. Terpujilah Engkau kini dan sepanjang segala maa. Amin.
Comments