PESTA PEMBERKATAN GEREJA BASILIKA LATERAN

RENUNGAN HARIAN

MINGGU 09 NOVEMBER 2025

Yeh 47:1-2,8-9,12; 1 Kor 3:9c-11,16-17; Yoh 2:13-22

 

Renungan Singkat

Bacaan Injil hari ini berbicara tentang Yesus membersihkan Bait Allah. Apa yang terjadi sesunggunya? Hari Raya Paskah merupakan hari besar bagi bangsa Yahudi. semua orang termasuk ank-anak yang sudah berusia 13 tahun wajib berziarah ke Yerusalem, sebab di Yerusalem terdapat Bait Suci tempat untuk ibadah mereka. Dalam upacara itu para peziarah wajib mempersembahkan kurban dan membayar pajak untuk Bait Suci. Tetapi karena yang datang ke Bait Suci tidak hanya orang yang ada di Yerusalem, juga orang-orang dari luar Yerusalem, maka tidak semua orang dapat membawa hewan kurban sendiri. Begitu pula dengan pajak. Mata uang yang digunakan untuk membayar pajak adalah uang Tyrian, dan bagi orang dari luar Yerusalem tidak semuanya mempunyai mata uang itu. Maka untuk membantu orang-orang yang berasal dari luar Yerusalem hadirlah para pedagang itu, seperti pedagang domba, merpati dan para penukar uang. Dengan demikian peran kehadiran mereka akan sangat membantu para pezirah yang datang dari luar Yerusalem. Lalu apa masalahnya? Mengapa Yesus marah, mengusir mereka, menghamburkan uang penukar-penukar itu dan membalikkan meja mereka?

Tampaknya Yesus melihat ada ketidakadilan dan ketidak jujuran mereka dalam praktik itu, juga ada peran para pemuka agama di balik itu. Mereka meraup keuntungan dengan tameng demi ibadah keagamaan. Praktik bisnis dibungkus dengan ibadah. Itu sebanya Yesus mengatakan: ”Rumah-Ku disebut rumah doa. Tetapi kamu jadikan sebagai sarang penyamun.” Para pedangang merpati dan domba menjual dengan harga yang sangat mahal, sementara penukar uang mengenakan biaya tinggi untuk menukar mata uang mereka. Para pemuka agama telah menjadikan tempat berdoa untuk memperoleh keuntungan, melakukan praktik korupsi. Alasan untuk membantu dan mempermudah umat yang datang dari jauh agar tidak repot diperjalanan, justru dijadikan kesempatan untuk meraup keuntungan. Itulah yang memancing kemarahan Yesus.

Melalui kisah ini Yesus juga ingin menekankan betapa pentingnya membangun relasi dengan Allah. Kalau sarana-sarana untuk berelasi dengan Allah disalahgunakan dengan macam-macam dalih, hal itu akan mengganggu. Oleh karena itu Yesus mengajak orang untuk kembali memberi makna yang benar akan kehadiran Allah dalam diri kita.

Penglihatan Nabi Yehezkiel mengingatkan kita pada peran Allah sebagai Benteng kehidupan kita dan Bait Kudus yang mengalirkan sumber berkat dan rahmat bagi seluruh umat manusia. Allah adalah pusat perhatian seluruh umat. Kalau semua orang memusatkan perhatiannya kepada Allah, maka rahmat dan kesuburanlah yang akan mengalir ke seluruh penjuru kehidupan manusia.

Santo Paulus mengatakan bahwa diri kita adalah bait Allah. ”Tidak tahukah kami, bahwa kamu adalah Bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” Apakah kita menyadari dengan sungguh bahwa diri kita adalah bait Allah itu, itu berarti Allah tinggal di dalam diri kita. Jika Allah tinggal di dalam diri kita, maka sudah sepantasnya kita tidak memberi ruang bagi roh jahat masuk dan tinggal di dalam diri kita. Seperti Yesus, kita juga harus menjaga kekudusan diri kita agar menjadi tempat yang layak dan panaatas bagi Allah.

Peringatan Pemberkatan Gereja Basilika Lateran mengingatkan kita bahwa Gereja menjadi tempat perjumpaan umat dengan Allah. Kita membuat hati, memberi ruang bagi Allah untuk masuk. Singkirkan semua yang menghalangi Allah seperti melakukan praktik-praktik kotor dengan tameng ibadah.

Semoga kita samakin berani meruntuhkan benteng-benteng duniawi yang mungkin ada dalam kehidupan kami dan menggantinya dengan benteng-benteng surgawi. Semoga kita juga diajak berani mengubah ‘domus fausta’ keduniaan yang ada dalam diri dan hidup kita menjadi Domus Dei, sehingga diri dan hidup kita menjadi suatu aliran rahmat dan berkat Tuhan bagi sesama melalui kesaksian dan pengabdian kita.

Diri kita telah disucikan dalam Sakramen Baptis. Diri kita adalah bait Allah itu sendiri. Dengan diangkat menjadi anak Allah dan bahkan bait Allah sendiri, maka sudah sepantasnya kita hidup menampakkan wajah Allah dan menjaga kemurnian dan kesucian diri kita.

 

Marilah berdoa

Ya Yesus, dengan Sakramen Baptis kami telah diangkat menjadi anak-anak Allah, sekaligus menjadi bait Allah. Dampingilah kami agar kami dapat menjaga tubuh kami, memelihara hidup kami sehingga mampu menjadi terang bagi lingkungan kami.

Dampingilah kami agar kami memiliki keberanian untuk meruntuhkan benteng-benteng duniawi yang mungkin ada dalam kehidupan kami dan menggantinya dengan benteng-benteng surgawi. Semoga kami juga diajak berani mengubah ‘domus fausta’ keduniaan yang ada dalam diri dan hidup kami menjadi Domus Dei, sehingga diri dan hidup kami menjadi suatu aliran rahmat dan berkat Tuhan bagi sesama melalui kesaksian dan pengabdian kami. Dan semoga sepanjang perjalanan hidup kami hari ini, kami mampu mewartakan kasih Allah dan menjadi tanda kehadiran Allah di dalam setiap perjumpaan kami dengan siapapun. Sebab Engkaulah Tuhan dan Allah kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Comments

Popular posts from this blog

IBADAT KREMASI DAN PERABUAN

IBADAT TIRAKATAN

PEMAKAMAN GEREJAWI