KEBAHAGIAAN SEJATI
RENUNGAN HARIAN
SABTU 11 OKTOBER 2025
Yl 3:12-21; Luk 11:27-28
Renungan Singkat
Bahagia. Semua orang menginginkan hidup bahagia. Kebahagiaan seseorang bisa
disebabkan oleh berbagai hal: karena memiliki bakat dan kemampuan yang baik,
kebehasilan dalam usaha, bisnis atau studi, atau karena anggota keluarganya.
Orang tua bahagia karena anak-anaknya hidup baik, sukses dalam studi, meraih
ranking, meraih prestasi terbaik, atau memiliki kecerdasan akal budi.
Cara berpikir seperti itulah yang tampaknya melatarbelakangi wanita itu
berseru ketika mendengarkan Yesus berbicara dengan orang banyak. Ia berasumsi
bahwa seorang ibu pasti akan bahagia mana kala anaknya menjadi pribadi seperti
Yesus, yang piawai dalam mengajar dan melakukan banyak mukjizat. Wanita itu
berseru: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung dan menyusui Engkau!” Tetapi Yesus
bersabda, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan Sabda Allah dan
memeliharanya.” Mengapa Yesus menanggapinya seperti itu?
Kita melihat
ada perbedaan cara pandang tentang kebahagiaan antara wanita itu dengan Yesus.
Wanita itu menyuarakan pandangan umum yang menganggap bahwa seorang ibu pasti
akan bahagia mempunyai seorang anak yang hebat. Ibu Yesus pasti bahagia
memiliki seorang anak yang cerdas, penuh wibawa dan berkuasa mengusir setan. Ia
membayangkan kalau dia punya anak seperti Yesus pasti akan merasa sangat
bahagia.
Namun sebailknya,
Yesus melihat dengan cara pandang yang sangat berbeda. Yesus mengoreksi
pandangan umum, juga wanita itu. Kebahagiaan seseorang tidak diukur berdasarkan
relasi kedekatan. Yesus mengatakan kebahagiaan utama terletak pada kemampuan
orang untuk mendengarkan Sabda Allah dan memeliharanya. ”Berbahagialah
orang yang mendengarkan Sabda Tuhan, dan tekun melaksanakannya.” Dan
seruan itu sering kita dengar setelah pembacaan Injil. Umat menjawab ”Tanamkanlah
Sabda Mu ya Tuhan, dalam hati kami.”
Kebahagiaan yang
Yesus maksud adalah kebahagiaan sejati, di mana setiap orang yang beriman
memiliki relasi yang mendalam dengan Allah dengan mangutamakan Sabda-Nya. Mereka
yang mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah, oleh Yesus disebut sebagai ibu-Ku,
saudara-Ku. Hal itu berarti mereka adalah bagian dari keluarga Yesus.
Perlu
diingat, Yesus tentu tidak menolak kalau ibu-Nya bahagia. Namun,
kebahagiaan Maria terlebih karena ia adalah orang yang telah mendengarkan Sabda
Allah dan merenungkanya di dalam hatinya. Maria
adalah seorang ibu yang bahagia, karena ia sendiri adalah ibu Sabda yang
menjadi manusia, seperti dikatakan oleh Paus Benediktus XVI dalam Anjuran
Apostolik Verbum Domini (Sabda Allah), Maria sungguh akrab dengan sabda Allah bagaikan dalam rumah,
di mana ia keluar masuk. Ia berbicara dan berpikir dengan sabda Allah; Sabda
Allah menjadi perkataannya, dan perkataannya datang dari sabda Allah. Juga
menjadi nyata bahwa pikirannya ikut berpikir dengan pikiran Allah, bahwa
kehendaknya ikut dengan kehendak Allah. Karena ia sungguh diresapi sabda Allah,
dapatlah ia menjadi ibu sabda yang menjadi manusia (Verbum Domini, No. 28)
Oleh karena itu
selayaknya kita juga belajar pada Bunda Maria untuk tekun mendengarkan Sabda
Allah yang telah menjadi daging dalam dirinya. Kita belajar untuk terbuka
terhadap Alah dan orang lain, aktif mendengarkan dengan aktif yang
menginternalisasi dan mengasimilasi, di ana sabda menjadi cara hidup.
Marilah berdoa
Yesus yang mahakasih. Engkau mengatakan bahwa yang berbahagia ialah mereka
yang mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah. denan mendengarkan Sabda Allah
dan melaksanakannya, kami Kau angkat menjadi saudara-saudari-Mu. kami mohon,
ajarilah kami untuk selalu mencari kebahagiaan hanya di dalam kasih-Mu. Bantulah
kami untuk mampu mendengarkan Sabda Allah dan mampu melaksanakan-Nya dalam
perjalanan hidup kami sepanjang hari ini. Jadikanlah kami sahabat-sahabat-Mu
dan berkatilah kami agar dengan hati yang tuus ikhlas kami selalu setia mendengarkan
Sabda-Mu, memeliharanya di dalam hati kami, dan melaksanakannya dalam kehidupan
kami. Sebab Engkaulah Tuhan dan Allah kami, kini dan sepanjang segala masa.
Amin.
Comments