PINTU ITU SEMPIT TETAPI KALAU MAU, KAMU BISA MELEWATINYA
RENUNGAN HARIAN
RABU 29 OKTOBER 2025
Rom 8:26-30; Luk 13:22-30
RENUNGAN SINGKAT
Hari ini kita diajak olah St. Paulus berbicara tentang perjalanan iman, suatu perjalanan yang tidak mudah, tetapi selalu disertai kasih dan rahmat Allah. Manusia sering tidak tahu harus apa; tidak tahu harus berkata apa di hadapan Tuhan. Ada orang merasa telah lelah untuk berdoa, air mata sudah habis, kata-kata sudah tidak berarti lagi. Akhirnya putus asa, dan menyerah. Dalam situasi seperti itu sesungguh Roh Kudus hadir dan bekerja dalam dirinya. Roh Kudus adalah suara dalam keheningan, menjadi keluhan yang tidak terucap di hadapan Tuhan.
Paulus juga
mengingatkan kita bahwa ”Allah turut bekerja dalam segala sesuatu turut
mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” Apa yang mau
disampaikan? Bahwa di balik setiap peristiwa hidup manusia Tuhan telah memiliki
rencana. Allah bukan hanya mengetahui sejak awal, Dia malah sudah menentukan
dari awalnya. Tujuannya supaya kita menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya. Pertanyaannya,
apakah kita dapat menangkap itu? Dalam kerapuhan kita Tuhan sedang menumbuhkan
kekuatan; dalam kehilangan kita, Tuhan sedang menumbuhkan pengharapan. Jika
kita mengenal rencana-Nya dan bertahan dalam menghadapi berbagai kesukaran, Ia
akan membenarkan kita, bahkan kita akan dimuliakan-Nya.
Injil menampilkan Yesus yang sedang mengajar dalam perjalanan menuju ke Yerusalem. Ada seseorang bertanya kepada-Nya: ”Tuhan sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Yesus tidak langung menjawab pertanyaan itu. Ia membuat orang yang mendengarnya berpikir lebih dalam, lalu katanya?: ”Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit.”
Yesus
mengatakan pintu masuk keselamatan itu sempit. Gambaran pintu yang sempit
itu ditujukan untuk menjawab pertanyaan mengenai berapa orang yang diselamatkan.
Artinya diperlukan perjuangan untuk memasukinya. Hidup beriman adalah
perjuangan yang terus menerus, dengan banyak sakit dan penderitaan, demi
mencapai keselamatan. Untuk dapat masuk kita harus berani berkorban: menanggalkan
keinginan duniawi, egoisme dan dosa, lalu memilih hidup dalam kasih dan kesetiaan.
Banyak orang berpandangan bahwa yang penting percaya kepada Yesus. Cukuplah mengenal
Yesus, maka akan memiliki jaminan untuk dapat masuk melalui pintu sempit itu. Atau
cukuplah mendengarkan firman-Nya, tidak perlu mentaati-Nya, pasti selamat. Tetapi
Yesus mengingatkan, justru merekalah yang harusnya tinggal di luar.
Yesus mengatakan:
”banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat!”
Mengapa? Mereka yang tidak sungguh-sungguh berusaha, tidak mau repot, tidak mau
berjuang atau berkorban, tidak akan masuk melalui pintu itu. Penginjil Lukas
pernah mengatakan: ”bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus
mengalami banyak sengsara” Mereka tidak dapat masuk juga karena mereka
telah berdosa. Mereka seharusnya bertobat, sebab pertobatan yang sejati
akan membawa orang sampai kepada Allah. Sayangnya, mereka merasa telah makan
dan minum bersama Yesus, tetapi mereka tetap melakukan kejahatan. Mereka
menyaksikan banyak perbuatan ajaib dan kasih Yesus, tetapi mereka tega
menjatuhkan hukuman mati atas diri Yesus. Itulah sebabnya Yesus mengatakan: ”Aku
tidak tahu dari mana kamu datang. Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kalian semua
yang melakukan kejahatan."
Yesus
menggunakan perjamuan sebagai simbol keselamatan. Mereka yang diterima tuan
rumah adalah mereka yang pantas mengikuti perjamuan itu. Mereka yang berpakaian
pesta dan tiba pada saat-Nya, yang akan mengikuti perjamuan. Mereka telah
berhasil melampaui pintu itu dengan bertahan dalam pergumulan dan derita hidup.
Mereka tidak hanya ikut merayakan Ekaristi tetapi juga turut berbagi roti
sehari-hari. Mereka tidak saja mengumandangkan Firman, tetapi juga diubah dan
mengubah dunia dengan Firman itu. Keselamatan bukan karena kita punya banyak
pengetahuan, tetapi kita sungguh hidup daam kasih Tuhan. Yesus menghendaki kita
memiliki sikap rendah hati dan kasih untuk dapat melewatinya.
Yesus juga
mengingatkan, ”Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu,
kamu akan berdiri di luar...”. Yesus mau menunjukkan bahwa perjuangan
tanpa lelah harus dibarengi dengan usaha pertobatan yang terus menerus sampai
saatnya nanti pintu ditutup. Orang harus terus berjaga-jaga, jangan sampai
terlena, merasa sudah aman dan berlaku seenaknya atau malah ”bermain-main” di
luar. Orang harus waspada, berbudi ”wening” dan pandai-pandai mengenal hadirnya
Yang Ilahi di dalam kehidupan kita. Dengan kewaspadaan, maka saat tuan rumah
akan menutup pintu ia tahu dan segera masuk ke dalammnya. Dengan sikap itu
orang dapat menyadari kapan Yang Ilahi itu datang dan dengan cara apa menyapa.
Mari kita
sungguh-sungguh mengikuti Yesus agar kita bukan hanya mengenal Yesus tetapi
juga dimampukan untuk meneladan dan mentaati kehendak-Nya pada kita. kita buka
hati dan pikiran kita, bahwa tidak cukup hanya rajin berdoa, rajin membaca
firman, tetapi juga tekun dalam melaksanakan perintah Yesus dalam kehidupan
sehari-hari kita. apa yang kita dengar dari-Nya, kita wujud-nyatakan dalam
sikap dan perilaku kita. semoga dengan demikian, kita diberi kesempatan untuk
ikut dalam perjamuan abadi di surga nanti.
Marilah berdoa
Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur
kepada-Mu karena Engkau telah mengundang kami masu ke dalam Kerajaan-Mu. Engkau
mengingatkan kai bahwa pintu masuk Kerajaan Allah itu sempat. Engkau menunjukkan
kepada kami bahwa syarat untuk memasuki Kerajaan Allah melalui pintu yang
sempit itu membutuhkan pertobatan. Bimbinglah kami agar kami seungguh-sungguh
mampu membarui hidup kami. jangan biarkan kami hidup dalam kesombongan,
egosiame dan tidak peduli kepada sesama kami. Ajarilah kami untuk menjadi
rendah hati, hidup dalam kasih-Mu dan setia mengikuti jejak-Mu. Sebab Engkaulah
Tuhan dan Allah kami, yang hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang segala masa.
Amin.
Comments